Catatan pagie
**
Pada pagi yang Sejuk aku Mengadu, tentang semua yang
ada. Tentang yang mambuat aku Bahagia juga
tersiksa. Entah dari mana ceritanya, perasaan itu datang begitu saja. Mungkin
yang maha cinta yang mengirimnya untukku agar bahagia selalu menyertaiku. Tapi
atau barangkali hatiku yang dengan sengaja mambuat semua ini? Ah… bedebah
dengan semua itu. Yang jelas aku benar – benar telah jatuh hati padanya.
Mencintaimu sungguh berat kurasakan. Menyakitkan
jiwaku, mengacaukan akalku, berat, berat, sungguh berat. Dan hal paling
menyakitkan saat mencintaimu adalah saat melihatmu mencintai orang lain.
Walaupun hati ini tersenyum saat melihatmu bahagia.
‘****
Aku kembali bermimpi. Seperti biasa aku tak sanggup
mengingat satu per satu dari apa saja yang ada dimimpiku tadi. Namun sate yang
jelas – jelas kuingat adalah kata – katamu dalam mimpiku. Dalam mimpiku kau
mengatakan, “cinta itu tak bisa menunggu, kejarlah”. Aku benar – benar tak
paham dengan semua ini. Apa aku terlalu mencintaimu sehingga kau terbawa
kedalam lenaku. Namun apa ini artinya aku harus mengatakan cinta ini. Tapi
bagaiman caranya? Aku sama sekali belum pernah mengungkapkan perasaan cinta
pada siapapun. Apa aku harus belajar pada anjing yang selalu berani
menggonggongkan isi hatinya? Atau haruskah kutemui seorang pelukis agar ku bisa
belajar melukiskan perasaan cinta ini? Ah… aku terlalu pengecut untuk semua
ini. Mungkin tuhan memang menakdirkan aku sebagai pecundang. Pecundang yang
selalu kalah, tak pernah bisa mengenal arti perjuangan.
Cinta. Teman – teman bilang, cinta itu
membingungkan. Kadang bisa mambuat senang bukan kepalang. Tapi katanya jug bisa
bikin nangis tujuh hari tujuh malam. Lalu bagaimana denganku? Aku baru saja
mengenal apa itu cinta. Meskipun baru sebatas mencintai, karena aku belum mengatakannya.
Dan kalau dicintai, aku tak tahu ada atau tidak ya orang yang mau mencintai aku?
Lalu Apa aku harus percaya pada semus yang dikatakan teman – temanku?
Pertanyaan – pertanyaan yang semu aku gantung di
langit – langit rumahku. Aku tata rapi. Meski tak serapi buku – buku dikamarku.
Dari pertanyaan yang dimulai dari kata apa, sampai pertanyaan yang dimulai dari
kata dimana. Kata dan tanda Tanya yang penuh harapan bisa menemukan jawaban.
Jawaban akan kerisauan, kegalauan, keresahan, dan semua hal tentang
permasalahan hidup. Jawaban – jawaban yang ku harap bisa mendatangkan kepastian
tentang langkah lebih lanjut yang harus aku ambil.
‘******
Separati biasa
aku kembali tergesa – gesa. Rasanya sudah tak mungkin lagi mengejar langkah
waktu yang berlari. Namun dengan sedikit harapan aku mencoba membujuk waktu
untuk menunggu. Namun saying detik tetaplah detik, yang selalu bergerak sama.
‘*******
Kawan, apa kau tahu? Kalau yang namanya waktu itu tak
akan gagal dalam barputar. Ia selalu konsisten. Selalu bergerak maju. Ia tak
pernah bergerak mundur. Jadi cobalah pikir. Andai saja kita berhenti sejenak saja.
Kita akan tertinggal jauh. Bahkan sangat jauh. Apa kau tak menyadarinya. Betapa
bodohnya kita yang sering menyia – nyiakan waktu begitu saja.
Penyesalan. Ya…. Hanya penyesalan yang akan kau
dapatkan tat kala kau mengabaikan waktu yang lewat dengan kesia- siaan.
Aku tak mau seperti itu. Aku mau menggunakan waktu
dengan sebaik – baiknya. Amien….
‘ ******
Aku terbungkam dengan nada kepalsuan yang kau
berikan. Aku take sanggup menolak perasaan yang kau siratkan itu. “auk cinta
kamu” setidaknya itulah kalimat yang selalu terngiang dibenakku. Adakah kau
mengerti perasaan ini? Akankah kau mau mendengar bila kukatakan aku saying
padamu? Atau setidakknya tersenyum agar aku bahagia? Ah, auk take mau terlalu
terlambung dalam anganku. Sungguh hujan gerimis sore ini mamuat aku rindu kamu.
‘********