Minggu, 22 Januari 2012

Bakal karya, "sekedar latihan posting"


Catatan pagie




**
Pada pagi yang Sejuk aku Mengadu, tentang semua yang ada. Tentang yang mambuat aku Bahagia  juga tersiksa. Entah dari mana ceritanya, perasaan itu datang begitu saja. Mungkin yang maha cinta yang mengirimnya untukku agar bahagia selalu menyertaiku. Tapi atau barangkali hatiku yang dengan sengaja mambuat semua ini? Ah… bedebah dengan semua itu. Yang jelas aku benar – benar telah jatuh hati padanya.
Mencintaimu sungguh berat kurasakan. Menyakitkan jiwaku, mengacaukan akalku, berat, berat, sungguh berat. Dan hal paling menyakitkan saat mencintaimu adalah saat melihatmu mencintai orang lain. Walaupun hati ini tersenyum saat melihatmu bahagia.
‘****
Aku kembali bermimpi. Seperti biasa aku tak sanggup mengingat satu per satu dari apa saja yang ada dimimpiku tadi. Namun sate yang jelas – jelas kuingat adalah kata – katamu dalam mimpiku. Dalam mimpiku kau mengatakan, “cinta itu tak bisa menunggu, kejarlah”. Aku benar – benar tak paham dengan semua ini. Apa aku terlalu mencintaimu sehingga kau terbawa kedalam lenaku. Namun apa ini artinya aku harus mengatakan cinta ini. Tapi bagaiman caranya? Aku sama sekali belum pernah mengungkapkan perasaan cinta pada siapapun. Apa aku harus belajar pada anjing yang selalu berani menggonggongkan isi hatinya? Atau haruskah kutemui seorang pelukis agar ku bisa belajar melukiskan perasaan cinta ini? Ah… aku terlalu pengecut untuk semua ini. Mungkin tuhan memang menakdirkan aku sebagai pecundang. Pecundang yang selalu kalah, tak pernah bisa mengenal arti perjuangan.
Cinta. Teman – teman bilang, cinta itu membingungkan. Kadang bisa mambuat senang bukan kepalang. Tapi katanya jug bisa bikin nangis tujuh hari tujuh malam. Lalu bagaimana denganku? Aku baru saja mengenal apa itu cinta. Meskipun baru sebatas mencintai, karena aku belum mengatakannya. Dan kalau dicintai, aku tak tahu ada atau tidak ya orang yang mau mencintai aku? Lalu Apa aku harus percaya pada semus yang dikatakan teman – temanku?
Pertanyaan – pertanyaan yang semu aku gantung di langit – langit rumahku. Aku tata rapi. Meski tak serapi buku – buku dikamarku. Dari pertanyaan yang dimulai dari kata apa, sampai pertanyaan yang dimulai dari kata dimana. Kata dan tanda Tanya yang penuh harapan bisa menemukan jawaban. Jawaban akan kerisauan, kegalauan, keresahan, dan semua hal tentang permasalahan hidup. Jawaban – jawaban yang ku harap bisa mendatangkan kepastian tentang langkah lebih lanjut yang harus aku ambil.
‘******
Separati  biasa aku kembali tergesa – gesa. Rasanya sudah tak mungkin lagi mengejar langkah waktu yang berlari. Namun dengan sedikit harapan aku mencoba membujuk waktu untuk menunggu. Namun saying detik tetaplah detik, yang selalu bergerak sama.

‘*******
Kawan, apa kau tahu? Kalau yang namanya waktu itu tak akan gagal dalam barputar. Ia selalu konsisten. Selalu bergerak maju. Ia tak pernah bergerak mundur. Jadi cobalah pikir. Andai saja kita berhenti sejenak saja. Kita akan tertinggal jauh. Bahkan sangat jauh. Apa kau tak menyadarinya. Betapa bodohnya kita yang sering menyia – nyiakan waktu begitu saja.
Penyesalan. Ya…. Hanya penyesalan yang akan kau dapatkan tat kala kau mengabaikan waktu yang lewat dengan kesia- siaan.
Aku tak mau seperti itu. Aku mau menggunakan waktu dengan sebaik – baiknya. Amien….
‘ ******
Aku terbungkam dengan nada kepalsuan yang kau berikan. Aku take sanggup menolak perasaan yang kau siratkan itu. “auk cinta kamu” setidaknya itulah kalimat yang selalu terngiang dibenakku. Adakah kau mengerti perasaan ini? Akankah kau mau mendengar bila kukatakan aku saying padamu? Atau setidakknya tersenyum agar aku bahagia? Ah, auk take mau terlalu terlambung dalam anganku. Sungguh hujan gerimis sore ini mamuat aku rindu kamu.

‘********